Jumat, 04 Maret 2011

Tentang dan Ketika…

Saya sangat suka dengan dua kata ini..
Bagaikan burung yang terbang bebaaaasss…jauh..jauh..tinggi ke langit yang biru (mirip lagu yah..?)
Saya bisa berceloteh apapun…
MemujiMu..bersyukur..tersenyum..tertawa..menangis..bersabar..melihat..mendengar.. membaca.. menulis.. merasakan..Hmm, buanyaak…!! Tak bisa kusebutkan semuanya..
Tepukan di Pundakku..

Merindukan tepukan itu..
Sederhana, Cuma menepuk tiga kali di pundak kanan ku..
Kemudian tepukan itu mampu menguatkanku..menegarkan..mendamaikan hati..dan membuatku tersenyum..!
Terkadang terselip sebuah kalimat afirmasi yang semakin menguatkan tepukan itu..
Heii…
Engkau, Perempuan Sang Penepuk Pundak…
Semoga Rahman & Rahim-Nya senantiasa tercurah untukmu
^_^,

Tentang hujan dan hatiku..

Beranda Paviliun 4 08.15 waktu Indonesia bagian LPI Bogor

Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku selama menjalankan program SGEI II di Bogor. Pagi ini, kembali hujan menyapa..memercikkan rahmat-Nya. Semoga semua orang terkasih juga merasakan bahagia yang kurasa..

Tentang hujan dan hatiku..


Hujan selalu mampu mendamaikan hatiku..merefresh kembali semua memori di kepala dan di hati (memang ada..?hehe..). Bagaikan sebuah video yang diputarkan di depan mataku, memanggil semua kenangan-kenangan indah yang tersimpan rapi di otak kecilku.

Seperti lagu yang disenandungkan oleh Amanda feat Opick “Terbayang satu wajah, penuh cinta..penuh kasih..”. Mama’…barakallahu, semoga Allah membalas semua cintamu dengan jannah-Nya.

Tentang Masa kanak-kanak ku yang indah, berlarian sepulang sekolah di tengah hujan. Dengan tas dan sepatu yang dibungkus kantong2 (plastic red).

Tentang rumah yang bocor karena hujan dan sang pemilik rumah tidak punya uang untuk memperbaikinya.

Tentang dua orang remaja yang berboncengan di tengah hujan lebat dan tampak menikmati hujan (hmm…perasaanku jadi aneh menyaksikan itu).

Tentang buruh bangunan yang tetap melanjutkan pekerjaannya di tengah hujan deras.

Tentang seorang bapak tua pembersih selokan yang mengerjakan tugasnya bersama dengan hujan.

Tentang anak kecil yang merengek ke ibunya karena mau bergabung dengan teman2nya untuk bermain hujan..

Tentang musibah yang katanya disebabkan oleh hujan yang berkepanjangan. Tapi yakinlah, saya tidak percaya dengan hal itu..Saya begitu menyayangi hujan. Musibah yang melanda karena ulah manusia juga ko’..!

Tentang anak-anak yang menjual payung di Pasar Central Makassar

Tentang para ojek payung di depan Mal Panakkukang Makassar

Tentang Pulau Buaya yang tak tampak dari Parepare kalau sedang hujan di Pinrang

Tentang lubang yang tak terlihat ketika hujan di jalan Pangkep, sering sekali memakan korban bagi pengguna jalan dan membuat bapakku mannoko’-noko’ (mengeluh/ ngomel).

Tentang seorang Perempuan Penepuk Pundak yang mengendarai motornya saangaaaat lambaaat ketika hujan mengguyur Makassarnya..

09:18 waktu bersama Oppah..Ipin..dan siswa Jampang 4

Hujan telah reda..suara tik..tik..tik..nya tergantikan dengan gelak tawa calon penerus bangsa from Jampang Bogor.

Tentang hujan dan hatiku, akan kulanjutkan ketika hujan menyapaku lagi..

T’senyum Slalu..

^_^,

Keroo n Me…

Hari yang indah dan penuh berkah, insya Allah…Kalimat itu senantiasa mengawali hari-hariku, tidak terkecuali ketika menjadi seorang ce’gu (kata Upin-Ipin) di sebuah sekolah yang letaknya cukup dengan membayar angkot Rp.1500 saja. Yah, panggilan Ce’gu di negara tetangga kita bisa jadi adalah sosok luar biasa. Tetapi di negara kita, terkadang profesi mulia ini dikesampingkan. Ah, sudahlah…saya tidak mau jutaan sel saraf pada tubuhku dan tubuh anda sekalian merespon afek negative dari statement yang baru saja kukatakan.
Disuatu pagi ketika guru kelas 1 sekolah tempat saya magang tidak bisa mengajar. Dag..dig..dug,..perut mules, sungguh saya tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku. Oh, tunggu…!Bukankah itu gejala psikosomatis yang sering melanda seseorang yang merasakan kecemasan yang sedikit berlebih ketika dihadapkan dengan suatu masalah..? Benar, saya agak cemas ketika akan mengajar di kelas 1 SD (padahal yang akan saya hadapi adalah anak kecil berumur 6-7 tahun).
Assalamu’alaikum, anak-anak sekalian…!
Satu detik..dua..tiga…empat…lima detik…Ah, lama sekali pikirku!Kenapa mereka belum menjawab salamku..?Sebegitu minimnyakah pelajaran akhlak yang mereka terima?Tanyaku dalam hati yang sudah mulai berdzu’uzon.Astagfirullah…
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, dengan suara yang sangat nyaring dan tampak jelas tarikan urat di leher siswa ketika menjawabnya. Alhamdulillah, senyumku pun mengembang.
Tatapan penuh tanya dan selidik tampak dari sebagian besar makhluk mungil yang ada di depanku. Seolah-olah mereka mau mengatakan, ini siapa yah..?Manis sekali…!!hehe..
Jurus pamungkas yang telah kupersiapkan sebelumnya akhirnya kukeluarkan juga. Seorang sahabat baru yang akan menemani tugas muliaku menjadi seorang pendidik. Namanya Keroo Sepintas, orang-orang akan melihat kalau saya dan Keroo memiliki beberapa kesamaan. Mata bulat besar, pipi tembem, tapi warna kami berbeda yah!Saya sawomatang dan keroo hijau. Hmm, ga’ cocok untuk dibandaingkan deh..!Yahh, dialah Keroo boneka tangan yang kusayang. Rencananya, saya akan memanfaatkan Keroo untuk berbicara kepada siswa. Berharap saya bisa merebut perhatian mereka melalui Keroo.
“Haaii..teman-teman, kenalkan nama saya Keroo” kataku bak pendongeng hebat.
“Haii Keroo, balas anak-anak yang sebagian besar didominasi oleh suara anak perempuan”.
“Yesss..yess..” berhasil kataku dalam hati.
“Bolehkah saya bermain bersama kalian disini..?” lanjutku
Dan seterusnya hingga saya mengajak mereka berkenalan satu per satu. Saya pun hampir lupa kalau sebelumnya psikosomatis menyerang. Kelas hari itu terasa sangat menyenangkan. Tertawa bersama siswaku, kemudian beralih profesi menjadi seorang Ibu untuk mendiamkan anaknya yang menangis karena rautannya direbut oleh temannya, maju ke depan belakang bernyanyi dan senam bersama mereka, dan Keroo tentu saja. Pengalaman pertamaku mengajar di kelas rendah, yang kita kenal dengan kelas yang amat sangat sulit untuk diatur, Subhanallah... Thanks Yaa Rabb,,,syukran Keroo..!
Ternyata dengan sebuah boneka tangan, saya bisa mendapatkan hati siswa di hari pertamaku menjadi Ce’gu..!T’senyum Slalu…^_^,

Kamis, 17 Februari 2011

Hari pertama kumenjadi Ce'gu..^_^,


Dag..dig..duuug....!!
Jantungku berdegup kencang ketika akan memasuki kawasan SD Negeri Jampang Pondok Udik, sekolah yang saya tempati magang selama tiga bulan kedepannya. Nerveous..bercampur sedikt khawatir menjadi satu. Tetapi ada sejuta senang yang terkira yang membuat diriku sanggup meredam dag..dig..dug tadi.

Ibu Guru Titin...
Senang sekali rasanya dipanggil seperti itu..

Disambut hangat oleh Ibu Kepala Sekolah "Ely Rohimah, S,Pd, M.M" dan guru pamong Bapak " Sadang, S.Pd" adalah hal pertama yang kudapatkan di sekolah yang letaknya berseblahan dengan Markas Besar Ahmadiyah (yang dulu beritanya heboh sekali di tipi, hemm...ini toh tempatnya..!).

Perjuanganku menjadi pendidik generasi bangsa saya mulai dengan mengajar di kelas 6. Saat itu Pak Sadang meminta saya untuk mengajar Matematika di kelasnya. Bingung pun melanda...jujur, saya punya masalah dengan sesuatu yang berbau "numerikal" (hmmfhh...payah juga yah..!).

Alhamdulillah, kelas 6 saat itu berhasil saya kuasai dengan teknik2 clasroom management yang telah diajarkan oleh Trainer Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa. Saya memulai kelas dengan memperkenalkan diri dengan metode bernyanyi. liriknya seperti ini:

" Saya adalah Bu Guru Titin, berasal dari Kota Makassar..
Setiap hari pergi sekolah untuk emngajar anakku semua.."

(liriknya dinyanyikan dengan lagu Aku adalah anak gembala..)

Suasana kelas pada saat itu riuh..mungkin siswa-siswa heran..keget..n bingung..nih guru, ujuk-ujuk datang..masuk kelas, langsung nyanyi..!!Hehehe...Bu Gulu Tien memang aneh, anak-anakku..(maklum saja yah^_^,).

Kemudian perjalanan mengajar pertama saya dilanjutkan dengan berkenalan dengan siswa satu per satu (mereka juga bernyanyi,yang dilanjutkan menyebut nama;tetala;umur;hobby;cita-cita;dan pengalaman lucunya). Semua siswa tampak antusias...
Hmffhh...Alhamdulillah Yaa Rabb, saya bisa melalui hari ini...

Setelah mengajar, saya melepaskan sedikit lelah di ruangan Kepsek. Saat itu, Ibu meminta saya untuk mengeditkan file KKM yang telah beliau susun. Katanya untuk digunakan oleh guru-guru di awal semester tahun depan. "Hmmm...Kepsek yang rajin" pikirku.

Hari pertama juga kulalui dengan mendiskusikan mengenai jadwal mengajar dengan Guru Pamong. Alhamdulillah, setiap harinya dapat 2 kelas yang berbeda (SEMANGAT Bu' Gulu...!!)

Peraturan Pemerintah yang terbaru menetapkan bahwa guru-guru pulang dari sekolah pada pukul 15.00. SDN Jampang Pondok Udik sendiri menetapkan jam pulangnya pada pukul 14.00 bagi guru dan pukul 12.00 untuk siswa kelas 1-5. Sedangkan siswa kelas 6 pulang pada pukul 13.00 atau 14.00. Waah...tantangan baru untukku,bertahan di sekolah sampai semua guru-guru pulang..!

Hmm, hari yang indah dan penuh berkah, Alhamdulillah....
Semuanya bisa kulalui karena Ridho-Mu Yaa Rabb..

Jaga semangatku ini..bimbing terus hati,fikiran,amal,dan lisan ini...
Semoga saya senantiasa bisa menorehkan segudang manfaat di
SDN Jampang Pondok Udik,Kemang Bogor...

"Beranda Paviliun 4 SGEI"

Guru Pemimpin...


Beranda paviliun 4 SGEI


Saya ingin bercerita tentang leadership games yang sering diberikan oleh Agung Pardini, trainer Makmal di LPI Dompet Dhuafa. Kami diinstruksikan untuk memilih salah satu atau beberapa orang teman-teman dari siswa SGEI II untuk dijadikan pemimpin berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh trainer. Sepintas terlihat permainan ini begitu mudah, tugas kami hanyalah mencatat nama dari teman-teman kami sendiri. Suatu ketika kami diminta untuk memilih seseorang untuk dijadikan ketua dalam sebuah tim. Pernah juga dalam satu tim, trainer memerintahkan untuk melepaskan dua anggota tim untuk ditukarkan dengan satu orang anggota tim lainnya yang kami anggap kuat untuk bergabung bersama kelompok kami. Sungguh berat rasanya untuk menuliskan nama-nama tersebut. Ternyata, ada proses berpikir yang jauh lebih serius untuk menentukan nama.

Proses pengambilan keputusan (decision making) dalam memilih dan melepaskan anggota tim pada permainan dapat memberi gambaran bagaimana seseorang dapat mengambil keputusan dalam waktu yang singkat. Proses tersebut merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin, tidak terkecuali guru. Permainan ini juga bisa memberikan gambaran kepada kami tentang siswa-siswa SGEI yang dianggap mampu menjadi pemimpin. Ada beberapa orang yang namanya selalu dipilih oleh siswa lain untuk menjadi pemimpin mereka. Sebaliknya, ada pula siswa yang namanya tidak pernah disebutkan dalam bursa pencalonan pemimpin tim. Permainan ini bisa mengajak para pemainnya untuk merefleksikan diri, bagaimana implementasi jiwa kepemimpinan yang ada di dalam dirinya. Terkadang seseorang bingung menentukan sikap atau keputusan dalam waktu cepat, sehingga factor ketersediaan waktu sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Anda sebagai guru, sudah siapkah anda untuk menjadi pemimpin..?

Something about Tien Asmara..


Andi Tien Asmara Palintan, adalah putri pertama buah cinta dari pasangan Drs. Palemmui, MM dan Andi Intang, S.Pd. Sulung dari lima bersaudara ini lahir di Kota Parepare, 01 Desember 1987. Menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 35 Parepare pada tahun 1999, SLTP Negeri 1 Parepare tahun 2002, SMA Negeri 1 Parepare tahun 2005, dan menjadi alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar tahun 2010. Sewaktu kuliah, perempuan bermata bulat ini pernah menjadi Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) Bidang Pendidikan di Universitas Negeri Makassar tahun 2008. Selain itu, juga pernah menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) Bidang Pendidikan tingkat wilayah Indonesia Timur (wilayah D). Titin, sapaan perempuan ini sangat menyukai travelling, training, organisasi, membaca, dan kuliner.

Dibesarkan oleh kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru memberikan motivasi yang begitu besar untuk mendedikasikan hidup kedalam dunia pendidikan Indonesia. Ia menyaksikan seorang dokter mengobati pasiennya, polisi dengan tulus mengatur lalu lintas di jalanan, pilot menerbangkan pesawat, bagaimana seorang Presiden memimpin Negara, dan berbagai profesi lainnya. Semuanya membuat Titin tersadar, bahwa mereka semua bisa melakukan kerja-kerja hebat itu karena bimbingan seorang guru. Hal tersebut yang membulatkan tekad Titin untuk menjadi seorang guru, figure yang akan mendidik dan mencerdaskan anak bangsa.

Siswa SGEI angkatan II ini berharap mampu memberi kontribusi yang besar dalam dunia pendidikan terkhusus bidang Psikologi Pendidikan. Salah satu impiannya adalah melihat anak Indonesia mempunyai karakter taqwa, jujur, berintelektual, cerdas, dan berakhlak baik. Sehingga para penerus bangsa tersebut mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang mulia dan bermartabat di hadapan Tuhan dan bangsa lain. Allahu Akbar..!!

Testimony untuk SGEI: Teruslah maju..menjadikan guru-guru Indonesia CERDAS dan INSPIRATIF. Karena dari guru lah, peradaban Indonesia akan berkembang..! Terima kasih telah membangunkan diriku dari tidur lelap..!!(kondisi pendidikan bangsa kita..).

Fabiayyi'ala irabbikuma tukazziban...

Fabiayyi'ala irabbikuma tukazziban...