Malam ini saya mendapatkan undangan ke acara pernikahan salah seorang warga Papela. Rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalku selama mengabdikan diri di Pulau Rote Ndao. Setelah sholat isya, saya dan Bi Mu’ bersiap-siap ke acara tersebut. Pernikahan disini berbeda dengan pernikahan di kampungku. Disini, akad nikah dimulai setelah sholat magrib. Kalau di kampong saya, akad nikah selalu dilaksanakan pada pagi hari.
Seperti umumnya pesta pernikahan, undangan datang dan langsung duduk ke kursi tamu. Aneh lagi menurutku, kami tidak langsung bersalaman dengan pengantinnya.Tapi amplop yang kami bawa telah diserahkan sebelumnya ketika masuk pertama tadi. Hehe…curang..!
Setelah duduk beberapa lama-ditemani alunan lagu dari album Cinta Rasul yang pernah booming ketika saya masih kecil- akhirnya sayapun menyadari bahwa lambungku ini sudah menuntut haknya malam ini. Iya yah..saya pun tersadar. Kenapa dari tadi saya, Bi Mu’, Bu Is-kepala sekolahku di Papela-, belum pergi ke meja makan..? Padahal saya telah menyengajakan diri untuk tidak makan dirumah karena sudah terbayang makanan di pesta. Haha..maklum, perut ini sudah lama tak bersua dengan mamalia penghasil susu segar. Goreng-goreng daging sapi sudah menari-nari dikepalaku sejak saya mendengar cerita abang. Katanya, pesta ini mengorbankan dua ekor sapi besar. “Waaaooww…subhanallah..!” celetukku saat itu. “Hebat sekali mereka Bi Mu..pasti mereka kaya sekali yah sampai memotong dua sapi”. Kemudian Bi Mu menjawabnya “Disini memang begitu, dua sapi sudah biasa”. Kataku lagi “Haaa..?Biasa…?Tapi kan mahal..?Sapi satu ekor saja 5 jutaan yang paling murah. Dikali dua jadi 10 jutaan kan?”. Bi Mu kembali membalas ” Ohh..harga sapi disini hanya satu sampai dua juta per ekor yang besar”. “Wuiiihhh…enak dong yah! Pantas mereka bisa memotong sapi berapapun sesuka mereka” kataku dengan kepala menggeleng-geleng-menandakan saya nyaris tak percaya harga sapinya-. Hmmm…saya bisa jadi pengusaha sapi neh ke Makassar-gumamku dalam hati-.
Nah..ternyata kebiasaan pada acara pernikahan di Rote, tamu-tamu akan diundang sedikit demi sedikit untuk maju ke meja makan. Berbeda dengan kondangan di kampungku. Tamu-tamu biasanya langsung antri di meja makan. Dengan setengah berharap, mataku sesekali melirik kea rah bapak yang diberi amanah untuk mempersilahkan tamu menuju meja makan. Serangan “Naga” di dalam perutku tak bisa diajak kompromi lagi. Beberapa menit setelah, barulah kami mendapat giliran untuk maju mengambil makanan. Sebenarnya, itupun karena inisiatif Bu Is yang mungkin juga merasakan apa yang kurasakan. Sama-sama lapar, maksudnya!
Bayangan oseng-oseng sapi kini menjadi nyata. Saya mengambil nasi dan lauk secukupnya. Dan selanjutnya, bismillah..saya larut dalam suasana pesta bersama empuknya daging sapi.
Rrrggghh…Alhamdulillah!
*to be continue....*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar